Tugal, Tanam Padi Ladang
oleh: Wenni
Tugal atau juga sering disebut Nugal (re: pulun atau semuyun dalam bahasa Dayak Kenyah) merupakan salah satu tradisi menanam padi di ladang dengan jenis lahan kering. Kegiatan ini biasanya dilakukan sejumlah 20 hingga 30 orang. Sebagai nilai kearifan lokal hampir seluruh masyarakat Desa Long Lebusan dan desa-desa lain di Sungai Boh menerapkannya.
Tradisi ini didasarkan oleh semangat gotong royong, kerja sama, dan kebersamaan untuk membuka menggarap lahan pertanian. Adapun penggunaan alat yang disebut tugal, yaitu berupa tongkat kayu berujung runcing yang ditancapkan ke tanah untuk membuat lubang tempat dimasukkan benih padi. Biasanya kaum laki-laki bertugas mengemban tugas tersebut. Sementara itu, kaum perempuan bertugas menabur benih padi ke dalam lubang (Lemaha).
Bergotong royong menunjukkan semangat kebersamaan, dimana masayarakat saling membantu untuk menyelesaikan perkerjaan dalam waktu singkat. Biasanya nugal dilangsungkan pada lahan yang pemiliknya sudah menyiapkan konsumsi bagi mereka yang membantu. Nominal biayanya pun tidak sedikit berkisar Rp1.000.000,- hingga Rp2.000.000,-.
Baca juga:
Si Kunyit Putih dari Rimba Sungai Boh
Si Kunyit Putih dari Rimba Sungai Boh